Jun 11, 2007
Mata Air 67: Tears...?

I'm so scared... scared to death... What will happen tomorrow? And days after? God, I'm scared...

Posted at 05:10 pm by aie
Make a comment  




May 7, 2007
Mata Air 66: It is...

It is not his deeds she's worried about, it's his instincts.

As when he sat comfortably near that person, as when he goes away when she approaches, as when he blames her for that person's sickness.

See, instincts can't lie...


Posted at 03:40 pm by aie
Make a comment  




Mar 12, 2007
Mata Air 65: Mariya: Perempuan Suci ataukah Buta?

Namanya Mariya. Seorang perempuan berusia 20 tahun, yang seumur hidup tak pernah bertanya dan tak pernah mengeluh. Betapa bersih hatinya…
Pagi yang sepi, seperti biasa di wilayah asri itu. Tuan rumah baru saja berangkat ke kantor. Nyonya rumah yang terkena virus flu dan terkapar sejak dua hari sebelumnya, keluar dari kamar, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan, tak rela tubuhnya terus-menerus digerogoti sel-sel yang entah sudah berapa juta jumlahnya. Baru sampai di ruang tamu dia sudah tak sanggup, akhirnya terkapar di kursi panjang dan membiarkan dirinya telentang sampai kapanpun tubuh menginginkannya. Anaknya satu-satunya ada di ruang lain – juga belum bebas benar dari virus yang sama yang memang dia tularkan pada ibunya – sedang bermain bersama seorang anak yang lebih kecil. Berebutan mainan tepatnya. Di kamar paling belakang, seorang (remaja) perempuan berusia 15 tahun yang mencari seribu cara untuk menghindari perkawinan, terkapar di tempat tidur, lagi-lagi oleh virus yang sama. Biasanya sepagi ini dia sudah disibukkan dengan kegiatan mencuci, menjemur, menyapu, dan mengurus anak Nyonya dan Tuan rumah.
Mariya, adalah sepupunya. Sepupu yang menawarinya untuk bekerja daripada dikawinkan. Mariya tahu, tidak berkesempatan bekerja seperti yang dulu sangat dia inginkan, malah kemudian dikawinkan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal, sangat menyakitkan. Tapi dia sendiri tak pernah punya keberanian untuk protes pada kedua orangtuanya, dengan alasan takut dosa. Guru agamanya mengatakan, melawan orangtua adalah dosa. Ahoy, ajaran yang indah!
 “Mbak, aku masuk ke kamar ya?” Mariya muncul di depan kamar utama, membawa sapu dan kemoceng.
 “Ya,” Nyonya rumah menjawab lemah, karena memang suaranya hampir hilang.
Beberapa saat kemudian – yang cukup lama karena Mariya benar-benar membersihkan kamar dengan seksama – Nyonya rumah yang merasa tak enak hati menambahi, “Sudah, mbak, jangan capek-capek, nanti ikut sakit.” Dia sadar perempuan itu mulai mengambil alih semua pekerjaan sang sepupu, padahal bukan itu maksud Tuan rumah mengajak Mariya dan suami Mariya tinggal di rumah itu.
“Nggak kok, mbak,” jawab Mariya.
“Belum bangun?” tanya Nyonya rumah, menyebut nama sepupu Mariya.
“Nggak bisa bangun katanya, mbak.”
“Sudah makan dan minum obat?”
“Sudah katanya, mbak.”
Katanya-katanya itu menunjukkan bahwa Mariya lebih suka membalas budi Tuan dan Nyonya rumah daripada mengurusi sepupunya yang sakit. Nyonya rumah kesal, bukan karena sikap Mariya, tapi sepupu Mariya. Entah sudah yang keberapa kalinya sepupu Mariya jatuh sakit sejak pertama kali bekerja di rumahnya. Setiap ada yang membawa virus, dialah pionir yang tertular. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan bandel.
Tuan dan Nyonya rumah tidak pernah membeda-bedakan siapa pemilik rumah, siapa penumpang dan siapa pekerja. Apa yang ada bisa dinikmati bersama, terlebih-lebih dalam soal makan. Gaji mereka sangat-sangat cukup untuk membiayai hidup semua kepala – itu juga sebabnya mereka mengajak Mariya, suami dan anaknya tinggal di situ. Tapi sepupu Mariya, yang datang lebih belakangan, sering menolak untuk makan hanya karena malu atau takut gendut. Lagi-lagi ajaran yang indah: jadilah perempuan pemalu yang selalu langsing, meski kau harus merepotkan orang karenanya!
Kedua perempuan itu terus mengobrol, yang satu sambil berbaring di kursi karena belum kuat kembali ke kamar, yang satu sambil menyapu, sampai Mariya mencapai teras. Nyonya rumah sudah tidak bisa lagi mengajaknya mengobrol. Dia meneruskan dalam hatinya sendiri.
Betapa hebatnya perempuan itu, pikirnya. Cantik, tulus dan sabar. Bertolak belakang dengan wataknya sendiri yang hanya mementingkan akal dan sangat keras. Di rumah itu hanya bisa ditemui dua orang dengan kesabaran luar biasa: Mariya dan Tuan rumah. Yang satu bersuami egois, tak mau urus anak, yang satu beristri keras. Sekilas timbul pengandaian dalam benak Nyonya rumah, seandainya suaminya beristrikan Mariya, rumah tangga mereka pasti sangat adem ayem, atau hambar? Dan kalau dia sendiri memiliki suami seperti suami Mariya? Tidak mungkin, hanya laki-laki super sabar yang mau menjadi suamiku. Nyonya rumah menepis pikirannya sambil tersenyum. Utara memang ada karena ada selatan, begitu juga sebaliknya.
Mariya sudah selesai menyapu dan entah mengerjakan apalagi. Melihat Nyonya rumah yang masih juga terbaring, dia menyapa, “Mbak mau diambilkan bantal?”
“Nggak usah,” tukas Nyonya rumah cepat. “Nanti aku pindah ke kamar.” Dia sendiri tidak tahu apakah nanti itu satu atau tiga jam setelahnya atau mungkin sore hari saat suaminya pulang. Atau bisa saja dia kembali ke kamar dengan berpegangan pada dinding, seperti kalau dia masuk ke toilet kamar untuk buang hajat atau memuntahkan isi perutnya yang sering kembung sejak terserang virus.
“Saya ambilkan makan ya, mbak,” kata Mariya lagi.
“Boleh, mbak, tapi jangan banyak-banyak,” kali ini dia terpaksa menerima. Virus-virus itu mulai membuatnya murka.
“Iya, sebentar ya, mbak.”
Mariya berlalu. Lima menit kemudian bergegas kembali dengan nampan berisi piring-piring dan gelas empat sehat lima sempurna, meletakkannya di atas meja.
“Terima kasih,” kata Nyonya rumah, sekuat tenaga melawan rasa mual melihat begitu banyak macam makanan yang harus melalui lidah getirnya.
“Ya,” Mariya berlalu, menghampiri anaknya yang mulai menangis oleh ulah anak Nyonya dan Tuan rumah.
“Nggak boleh nakal, nak, itu kan punya kakak,” katanya pada anaknya.
Sementara pada anak Tuan dan Nyonya rumah dia berkata, “Maaf ya, kak, adik memang nakal.”
Dan anak yang lebih besar semakin merasa besar.
Nyonya rumah mendengar itu semua, tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika kemudian anaknya datang, langsung disuruhnya mendekat.
“Kak, adik kan masih kecil, jangan keras-keras kalau bicara nanti adik takut. Kasihan Tante capek urus semuanya,” katanya berusaha penuh dengan kelembutan.
Nyonya rumah tahu, kalau badannya sehat, dia pasti lebih tegas dari itu. Tapi mendengar Mariya bicara dengan anak-anak itu sebelumnya, Nyonya rumah berusaha untuk menunjukkan kelembutan yang sama. Aku harusnya belajar bersabar dari perempuan suci ini, pikirnya. Nyonya rumah yang sakit…
Menjelang malam Tuan rumah pulang, menghampiri istrinya, yang sudah berhasil pindah ke kamar dan mengurus diri dengan merangkak-rangkak. Istriku yang hebat, pikir Tuan Rumah, bahkan saat sakit pun dia tidak ingin suaminya libur kerja dan rela bersusah payah sendirian. Kemandirian luar biasa itu yang membuatnya mengagumi istrinya. Dan ketegasannya dalam mengambil keputusan. Mungkin dirinya sendiri yang sering bimbang tidak bisa sehebat sekarang tanpa motor pendorong sekuat itu.
“Baikan, sayang?” tanya Tuan rumah, begitu menyejukkan. Dia tahu istrinya tidak ingin disentuh.
“Mas bisa ketularan,” katanya dulu waktu mencium istrinya saat sakit. “Biar aku saja yang tumbang, mas harus tetap sehat dan kerja.”
Dan sekarang dia tampaknya ingin menambahi, dengan hasil perenungannya seharian tentang dirinya, dan Mariya.
“I’m alive,” katanya tersenyum, setulus-tulusnya hanya bercanda. “Gimana kerjaan?” Nyonya rumah menyadari, sejak menikah biasanya pertanyaan itu keluar dari mulut suaminya, dan ini kali pertama keluar dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah karena virus yang berpesta di tubuhnya.
“Baik,” jawab suaminya.
Nyonya rumah masih menatapnya.
“Apa?” tanya Tuan rumah.
“Ceritakan. Dulu kau biasa cerita banyak,” jawabnya.
“Yah, biasa saja.”
“Jelas tidak biasa, Mas. Dulu kau staf, sekarang manajer.”
“Ya biasa, ada sedikit promosi.”
“Promosi?”
“Promosi gaji karena sistem manajemenku.”
“Kau serius?” Nyonya rumah hanya bisa berteriak dalam hati. Sudah berapa lama aku terlalu berkutat pada karirku sendiri, sampai tidak tahu sistem manajemen apa yang digunakan suamiku.
“Maaf ya, Mas, selama ini aku terlalu egois, tidak memperhatikanmu,” katanya, terilhami kebahagiaan dan lagi-lagi kesabaran Mariya sebagaimana dia lihat hari itu.
“Egois? Mungkin ya. Tapi kau tetap punya peran besar.”
“Peran besar apa?”
“Kau selalu cerita keberhasilan-keberhasilanmu di kantor, promosi-promosimu, kepemimpinanmu, semua itu membuat aku memiliki jiwa pesaing dan ingin sehebat kau.”
“Benarkah? Jangan menghiburku, tanpa dihibur aku juga akan sembuh.”
“Aku serius, sayang.”
“Aku senang kalau itu benar. Untung aku tak ceritakan sudah berapa karyawan aku beri rekomendasi untuk dipecat atau turun jabatan karena suka menjilat. Bisa-bisa kau melakukan hal yang sama.”
“Memang.”
“Memang apa?”
“Aku juga sudah berhasil membuat beberapa karyawan dipecat karena mereka main tusuk teman sendiri dari belakang.”
“Kau? Benar-benar melakukannya? Aku pikir kau sangat pemaaf.”
“Untuk istri dan anakku tercinta, pasti. Tapi untuk mereka yang tidak punya tanggung jawab, mereka harus belajar menjadi dewasa.”
Sungguh Tuan rumah ingin memeluk istrinya yang berkaca-kaca. Tapi dia tahu perempuan itu pasti akan menolak.
“Mar…” suara yang nyaris tak terdengar yang ingin memintakan perhatian suaminya soal cerita tentang Mariya terputus oleh suara suaminya sendiri:
“Aku tidak bisa bayangkan seandainya aku menikah dengan perempuan yang hanya bisa pasrah sebelum mencoba. Eh, kau mau bilang apa tadi? Mar.. apa? Mariya? Sakit jugakah dia?”
“Tidak,” jawab istrinya, membatalkan akan mengatakan bahwa Mariya perempuan yang begitu hebat dengan segala kesabaran dan kepatuhannya. “Aku kasihan karena dia harus mengerjakan semuanya, tapi aku yakin dia kuat. Tapi, dia pasti kesepian tanpa suaminya.”
“Besok suaminya pulang. Aku hanya menugaskannya selama dua minggu, demi kelangsungan karirnya juga.”
“Ya, aku tahu. Aku bangga kau sangat memperhatikan teman lamamu begitu rupa.”
“Kau tahu aku orang yang tidak bisa menolak kan?”
Mereka tertawa. Anak mereka masuk, bertanya-tanya mengapa mereka tertawa dan ingin ikut tertawa.

Mariya di kamarnya, tengah malam setelah anaknya tertidur. Menangis dia dalam diam, seperti biasa dalam balutan yang dia sebut kesabaran perempuan. Kenapa dulu tidak berkeras hati meyakinkan orangtua bahwa dia perlu pendidikan yang tak hanya sampai kelas tiga sekolah dasar, atau setidaknya bekerja dulu untuk mendapatkan biaya sekolah. Sebaliknya, dia diam saja mendapat pingitan, karena takut orangtuanya kecewa, kemudian sakit dan meninggal. Maka pingitan itu dianggapnya sebagai pengabdian pada orangtua.
Ingat dia saat laki-laki tak dikenal yang sekarang menjadi suaminya, datang pada ayahnya, dan dia biarkan masa remaja putus di usia 16 tahun, hanya satu tahun lebih tua dari sepupunya, karena takut orangtuanya murka, kemudian sakit dan meninggal. Maka perkawinan itu menjadi pengabdian pada suami.
Dan sekarang, dia mengabdi pula pada Tuan dan Nyonya rumah ini, juga pada anak mereka, anaknya sendiri dan sepupunya yang terkapar sakit di kamar belakang. Hidupnya selalu penuh dengan pengabdian.
Mariya menganggap pengabdian adalah satu-satunya tugas perempuan. Tak pernah dia berusaha membuka mata hatinya, beranikah membiarkan diri terus-menerus pasrah seumur hidup? Lagipula dia yakin namanya mewarisi nama ibunda nabi Isa sebagaimana yang dipelajarinya dari guru agama; perawan suci.

Tapi Mariya ini, suci atau butakah dia?

(Malang, one day in february 07)


Posted at 04:51 pm by aie
Make a comment  




Dec 7, 2006
Mata Air 64: nggosssiippp

irritated.

Itulah perasaanku waktu tau dai kondang bersuara lembut itu berpoligami (ga ngomong kesetaraan gender lho ini, cuman dari sisi nurani aja). aku bukan penggemarnya sih, tapi dibanding dai2 lain yang kalo ngomong berapi2 (dan kadang juga bikin iritasi kuping kalo pas - menurutku - ceramahnya rada2 "maksa"), aku lebih suka suara lembut dai sunda itu. ah, reminds me of one of my lecturers, yang kata temenku suaranya enak banget di kuping, pas banget dia jadi dosen listening (kalo aku ngajar listening, mahasiswa pada tutup kuping ga ya denger suara kalengku??).

waktu istri pak dai ngomong soal pernikahan kedua itu di tivi, trus pak dai mengelus2 jilbabnya sambil bergumam, "aduh, baik banget..." masyaallah, aku semakin ga habis pikir, kok bisa orang selembut itu menduakan istrinya seperti sebatang tebu (habis manis sepah dibuang), padahal dia adalah orang yang bertahun2 mendampingi jatuh bangunnya, melahirkan dan merawat anak2nya (yang banyak pula)...

well, aku memang ga tau kenapa sebenarnya dia memutuskan untuk poligami. setauku, untuk itu ada alasan2 yang masuk akal, misalnya istrinya udah ga bisa melayani (dan menurutku ini pun sulit diterima sebagai alasan untuk berpoligami, karena sama aja dengan "habis manis sepah dibuang"), atau istrinya ga bisa kasih keturunan, atau mungkin istri kedua itu perlu dilindungi (dari syapa??). i believe the dai has a very good reason. tapi kalo alasannya menghindari zina, that's surely unacceptable. apa ga ada cara lain menghindari zina? misalnya pake kacamata kuda. kalo mo diturutin, 200 istri juga pasti masih kurang kan? lagipula, cinta kan ga bisa terus mekar kalo ga dipupuk dengan keyakinan bahwa pasangan kita adalah yang terbaik buat kita. kesetiaan juga bisa susut keriput kalo kita ga selalu mengingat bahwa pasangan adalah orang paling berjasa dalam jatuh bangun kita.

i might be a bit overreacting. bukan apa2 sih, kelembutan dai itu (yang aku liat di tipi, ga tau juga sebenernya kayak apa) mengingatkanku pada kelembutan suamiku, ehm (dia baca ini ga ya?). makanya aku sendiri ga bisa bayangin, kalo tangannnya yang perkasa tapi lembut (dan berbulu!) itu dipake juga buat ngelus2 perempuan lain... aduh, naudzubillah...

tapi bener, whatever the reason behind that second marriage is, aku masih ga habis pikir. mungkin kalo yang berpoligami bukan dia, aku masa bodo aja. tapi seorang laki2 selembut itu... gosh, i'm so much irritated!

(TPJ, 06.12.06, 21.30. under romantic music influence, miles from home... ).


Posted at 07:59 am by aie
Make a comment  




Oct 6, 2006
Mata Air 63: ...

"There was always something more important to do
More important to say
But "I love you" wasn't one of those things" ....

(Phil Collins' Do You Remember?)


Posted at 11:27 am by aie
Make a comment  




Jun 28, 2006
Mata Air 62: Unas… Unas…

Basi banget ya? Soalnya tadi abis nelpon kunit trus ngomongin soal UN karena anaknya niyan taun ini juga ujian sd. Syukur sih lulus, tapi kita belum tau nilainya berapa. Kata kunit, sebelum ujian siswa2nya ditarikin sumbangan dua ribuan, buat mbeliin koran pengawasnya. Maksudnya biar pengawas yang dari luar sekolah jadi sibuk baca koran, sementara pengawas intern bisa bagi2in bocoran jawaban ke siswa.

Yah, aku sih maklum kalo sogok2an tambah marak gara2 sistem penilaian UN yang kayak gitu. Misalnya aku masih sekolah, pasti juga ketar-ketir sama matematikanya. Kenapa ya sistem penilaiannya ga rasional banget? Ga semua orang pinter matematika, ga semua orang pinter bahasa inggris, dan ga semua orang pinter bahasa indonesia (bahasa kita kan sangat kaya idiom, pembentukan dll). Bener juga kata orangtua siswa yang lulus PBUD tapi ga lulus UN, jadi buat apa tiga tahun belajar kalo akhirnya ga berarti gara2 UN? Dampaknya itu lho, justru buruk banget buat pendidikan, salah satunya ya kayak yang aku bilang di atas.

Dampak lainnya? Orang jadi ga menilai siswa sebagai individu yang unik. Bakat dan ketertarikan siswa kan ga sama. Gimana dengan siswa yang jempol di bidang lain, misalnya seni lukis atau seni suara? Kok sama sekali ga diperhitungkan? Padahal seni itu keindahan. Ga kebayang kalo di indonesia ini udah ga ada lagi siswa yang bisa mengasah bakatnya di bidang seni, gara2 waktunya habis buat jawab soal2 bahasa indonesia, bahasa inggris sama matematika. Menyedihkan banget kalo manusia akhirnya cuman jadi robot yang taunya ngapalin rumus (rumus bidang, rumus tenses, rumus EYD, dll).

Inget lagi sama anak2 yang ga lulus UN tapi lulus PMDK/PBUD. Aku ga setuju kalo dibilang yang salah adalah sistem penyaringan universitas. Justru sistem seperti itu benar2 memperhatikan prestasi siswa. Yang dipertimbangkan kan bukan waktu yang singkat, tapi prestasi mereka selama di SMA. Dan penyaringan bibit unggul daerah itu membuat mahasiswa suatu jurusan jadi lebih beragam, masing2 bisa memperkaya wawasan dari budaya dan latar belakang sosial lainnya. Ini kan juga pemerataan pembangunan, karena mahasiswa dari daerah yang tertinggal bisa dapet ilmu dari universitas yang bagus, jadi begitu lulus dia bisa balik membangun daerahnya. Mm, harapan yang idealis sih, tapi bisa aja kan? Kalopun akhirnya dia ikut unthel2an di jakarta dan akhirnya sukses, saat daerahnya butuh bantuan kan dia bisa turun tangan.

Jadi inget juga sama tulisannya bos. Di saat indonesia menyeragamkan bahasa berbagai suku menjadi bahasa indonesia sebagai bahasa resmi, bos malah menulis bahwa guru perlu encourage siswa untuk menggunakan berbagai bahasa di dalam kelas. Jadi inget juga sama salah satu fatwa menyedihkan MUI yang melarang pluralisme. Duh, apa bener2 indonesia tercinta ini mo jadi negara robot? 


Posted at 12:55 pm by aie
Comment (1)  




Jun 21, 2006
Mata Air 61: The Post Partum...

dear child,
i love you so much that i can't see you live like this...

read more...


Posted at 01:02 pm by aie
Make a comment  




Jun 6, 2006
Mata Air 60: Sebuah Kisah Ke(tidak dan)hidupan

sesuatu membawaku kembali ke sana malam itu. lepas maghrib saat aku biasanya sudah sampai di tempat kos untuk beristirahat setelah seharian kerja dalam suasana tak menyenangkan, aku malah berdiri di depan pintu masuk kantor lamaku.

satpam tua itu tersenyum, menanyakan kabarku. masih ingat dia rupanya. bagaimana tidak, selama dua tahun aku bekerja di situ, lebih dari separuh waktu aku harus minta bantuan satpam untuk membukakan pintu. baru beberapa bulan mendapat akses bebas keluar masuk dengan kunci sendiri, termasuk ke ruang bawah untuk ikut dalam pesta kepulan asap rokok, kunci aku wariskan pada teman terakhir seangkatanku yang masih bertahan di sana. sama seperti aku, dia bertahan bukan karena betah, tapi karena belum ada pekerjaan lain yang lebih baik. pun akhirnya kami berdua sama-sama keluar. bedanya, dia langsung mendapatkan dunia kerja yang menyenangkan, sementara aku harus melewati masa perjuangan lebih dulu. di kantor lamaku itu karyawan keluar masuk adalah hal biasa. dan apa yang terjadi dalam ceritaku ini hanya salah satunya.

read more...


Posted at 11:14 am by aie
Make a comment  




Jun 1, 2006
Mata Air 59: What do They Learn?

kadang aku bertanya-tanya, anak-anak jaman sekarang ngapain aja di sekolah ya? mulai jam 7 pagi sampe jam 12 siang, bahkan ada yang sampe jam 4, anak2 itu ngendon di sekolah. pulang sekolah, apa yang mereka bawa?

aku bukannya meragukan kualitas sekolah jaman sekarang. kalo dari sisi keilmuan, aku yakin anak2 sd jaman sekarang lebih pinter daripada aku waktu sd. pengetahuan mereka pasti lebih luas. tapi untuk ilmu yang nggak kalah penting dari ilmu pasti dan ilmu sosial, bagaimana kualitasnya?

ya, aku bicara soal ilmu rohani, ilmu agama dan etika. kira2 di sekolah mereka diajarin apa ya soal ilmu rohani itu? kalo agama islam, misalnya, apa cuman diajarin siapa tuhan kita, nabi kita, kitab kita, atau rukun islam dan rukun iman, lalu cara baca tulisan arab? lainnya dari itu?

aku pernah baca di sebuah majalah, seorang wartawan (perlukah aku jelasin, dia wartawan perempuan?) bilang dia lebih suka anaknya sekolah di sekolah umum daripada sekolah agama. karena di sekolah umum anaknya bisa mengenal berbagai suku, budaya dan agama, sehingga dia lebih toleran dan open minded.

emang iya sih. aku rasa orang akan lebih terbuka kalau dia mengenal berbagai macam orang. jangan dari lahir sampe mati cuman tahu satu aliran aja, dan begitu ketemu aliran lain (bahkan yang seagama) kemudian dianggap salah, bahkan dianggap musuh yang perlu dibunuh. padahal dibilang dalam quran, tuhan menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (al-hujarat: 13). bukan untuk saling gontok-gontokan, melecehkan atau memusuhi.

makanya aku bilang, di sekolah anak2 diajarin ilmu rohani yang luas ga ya? kalo ilmu agamanya bener, pasti etikanya juga jalan. jadi ga ada yang namanya anak-anak mukul temennya, ngomong kasar, atau kurang ajar sama orang yang lebih tua.

memang sih, kualitas anak ga cuma ditentukan oleh pendidikan di sekolah. yang paling berperan tentu aja pendidikan di rumah. dan tentu aja peran orangtua yang mengarahkan anak-anaknya sangat besar. dalam pendidikan rohani, apakah di rumah anak cuman dikasih tahu harus sholat dan ngaji, tanpa dijelasin kenapanya? apakah anak cuman dikursusin untuk bisa baca qur'an tanpa tahu isinya apa?

mulai juli ini taman bermainnya dika mau full day. buatku bagus sih, daripada dia di rumah, bergaul sama orang-orang yang ga bener, mending dia di sekolah. waktu aku maksa masukin dia ke taman bermain pun bukan karena aku pengen dia belajar baca atau berhitung, tapi cuman mau ngebenerin perilaku dan pergaulannya. coba bayangin, orangtua mana yang nggak shock kalo anaknya pegang kepala bapaknya sambil bilang, "daddy gundul." atau ngeliat anaknya diajarin mukul atau ngelempar kucing. atau denger anaknya bilang "mampus!" pikir gw, gila nih orang2, masa ngajarin anak kecil jadi preman? yang bikin ngelus dada, orang2 yang ngajarin itu adalah orang2 yang biasa sholat dan ngaji. ya begitu itu kalo sholat ngaji tapi ga mendalami artinya.

sayangnya aku belum tau kurikulum full day nya kayak apa. besok sabtu perlu aku cek nih ke gurunya. percuma dong aku taruh anakku di situ seharian kalo ga dapet apa2, padahal bayarnya pasti lebih mahal dari yang sekarang. lagian selama ini aku rada ga puas sama pendidikannya di situ.

waktu pembantuku yang ketiga minggat abis lebaran, aku dapet pembantu yang bisa dibilang oon banget soal pendidikan anak. ngedotnya dika tambah kenceng, toilet training ilang semua. gimana ga stres? sementara ibunya ga punya banyak waktu. ya udah, aku cariin aja sekolah. karena rumah jauh dari mana-mana (kecuali dari sawah dan kebon), aku cariin taman bermain yang hanya 7 km dari rumah. dari awal aku udah wanti-wanti sama kepala sekolah dan gurunya, "bu, minta tolong, gimana caranya supaya dika bisa lepas dari dot dan kalo pipis ga di celana." di buku penghubung pun itu aku tekankan. aku ga minta mereka ngajarin anakku nulis atau mewarnai. baru 2 taun, belum saatnya, biarpun dia sudah pinter pegang pensil dan corat-coret.

hasilnya? anakku jadi hapal doa sebelum makan (tapi ga pernah dilakoni kalo ga diingetin), jadi bisa ngucapin syahadat biarpun cadel. fine, aku seneng, meski nalarnya dika paling2 belum nyampe ke apa semua itu sebetulnya. dan ngedotnya? akhirnya aku juga yang berhasil mengurangi. kalo siang memang masih dikasih, soalnya sore kan dia gosok gigi. tapi kalo malam sudah lepas total. toilet trainingnya? aku juga yang berhasil melatih. jadi dia sekolah buat apa dong? makanya aku perlu lihat kurikulumnya. aku ga muluk2 sih berharap. untuk anak sekecil itu, yang paling penting adalah pelajaran rohani dan sosial, bukan ilmu pasti. jadi nanti kalo dia sudah belajar nulis dan ngitung di sd (emang begitu kan kurikulumnya? kalo ada sd yang hanya menerima murid yang udah bisa nulis, berarti gurunya pada males), dia tetap punya dasar agama (dan etika) yang kuat.

Satu lagi kekhawatiranku soal taman bermainnya. budaya patriarkinya. suatu saat ada murid yang diantar bapaknya. trus gurunya tanya, "lho, ibunya mana?" (pikir gw dengan sinis, emang kenapa kalo dianter bapaknya? dosa??). si anak jawab ibunya di rumah. trus gurunya nyahut, "oh, ibunya masak ya?" (yeyyy... sejak kapan "di rumah" terjemahannya "masak"?).

suatu malam dika bilang ke aku, "bunda gila kerja." terang aja aku kaget setengah mati. anak ini dapet kosakata darimana? ditanyain siapa yang ngajarin, dia bilang "dika." ah, mana mungkin? emang dia tau artinya gila kerja? lagian kok bisa2nya nuduh ibunya gila kerja? emang ibunya kerja berapa jam sih sehari? paling cuma lebih satu jam dibanding perempuan2 tukang linting pabrik rokoknya bojoku. malah mereka kadang2 ngejar setoran sampe malam. apa ga lebih gila kerja?

kalo mau suudzon sih, aku punya tersangka siapa yang ngajarin kata2 itu. tapi biar ajalah, namanya juga ngadepin orang2 kolot dan berpikiran pendek (yang arti gila kerja aja mungkin ga paham). ealah, jaman kayak gini kok cuman disuruh konsumtif (reproduktifnya udah berenti soalnya, hehe...), emang abis musim ujan air ada musim ujan duit??


Posted at 10:42 am by aie
Make a comment  




May 31, 2006
Mata Air 58: the Earthquake, the Birthday

gempa di jogja punya arti sendiri buatku. pertama, banyak sodara2 dan beberapa temen di jogja. kedua, jogja itu seperti rumah kedua buatku - rumah pertamaku adalah dimana anak dan suamiku berada :) - meski kalo kesana kadang aku njujug di hotel dan bukan di rumah pakde atau om (tapi mampir juga sih). ketiga, alasan kemanusiaanlah, dimanapun ada musibah, pasti kita turut prihatin, kecuali kalo dah ga punya bening nurani (adika banget!).

begitu denger kabar gempa (jam 10.00-an abis nungguin dika sekolah), aku berusaha menghubungi keluarga om. hp tut-tut-tut, telpon rumah sami mawon, di sms pending. begitu juga keluarga pakde. begitu juga temen2ku. sorenya baru ketahuan mereka selamat, meski rumah om retak2, rumah bulek roboh. sebelum itu aku berusaha cari kabar sana-sini sambil mbuat kering tempe. tumben...? iya, soalnya besoknya suamiku ulang tahun dan aku berencana bikin nasi kuning. ini alasan keempat kenapa gempa jogja punya arti tersendiri.

sekitar jam 11-an, di tipi muncul kabar nama2 korban, dan salah tiganya adalah sepupu tetangga kita (uni titik heran, orang madura kok bisa nyampe jogja? hehe... sori). akhirnya saat itu juga suamiku memutuskan, kita akan nganter tetangga yang kehilangan itu sampe ke madura (uni titik heran lagi, kok ke madura, bukan ke jogja?). akhirnya hampir jam 2 kita berangkat dari rumah. si dika seneng banget tuh diajak nyebrang dari perak ke kamal. aku aja yang mulai berangkat bingung, itu kering tempe sama timun, kelapa, bumbu-bumbu, gimana nasibnya ya? mana mo bikin kejutan ketahuan, sekarang malah rencana bikin nasi kuningnya alamat gagal.

lha kok bisa ketahuan? tadinya sih aku mo diem2 aja, rencananya hari minggu mo bangun pagi2, gerilya di dapur sendirian, soalnya pembokat libur kalo weekend. eh, hari sabtu pas mo anter dika sekolah, daddy-nya minta ikut. pas dika udah asik main sama temen2nya, aku bilang misoa kalo aku mo ke pasar, dia tak suruh nunggu aja deket sekolah dika. eh, malah pengen ikut pula ke pasar. pikir gw, nih orang manja banget sih, tumben istrinya kemana2 diikutin (pasti bukan karena jealous ama pedagang sayur di pasar). di jalan dia nanya2 mulu, mo beli apa di pasar (biasanya weekend ga pernah belanja sih). ya udah, akhirnya rencana dibocorin deh.

tapi berhubung ada gempa jogja, ya ultahannya batal. tapi gapapalah, justru aku semakin sayang ama suamiku, dan itu kan kado yang paling berharga daripada nasi kuning atau kue tar. gimana ga tambah sayang, dia bela2in nyetir mulai jam 2 siang sampe jam 11 malem buat nganterin tetangga pulang kampung, sementara weekend begitu biasanya kita pake buat acara keluarga.

anyway, gempa yang meluluhlantakkan jogja (headline-nya jepe, alah!) sehari sebelum ultah bojoku itu makin bikin aku sadar bahwa manusia tuh ga ada apa2nya, boleh berencana (bikin nasi kuning) tapi tuhan yang menentukan (ga jadi). makanya hinalah manusia yang sok hanya dengan sedikit kelebihan yang dia punya, yang dengan sedikit sentilan dari tuhan aja bisa lenyap semuanya.

lepas dari semua itu, my deepest condolences to all of the victims, the families, and the people who love them (including me, a jogja lover)... yuk kita bantu mereka semampu kita.


Posted at 11:31 am by aie
Make a comment  




Previous Page Next Page
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30



pernah diwanti2 sama emak untuk hati2 kalo ketemu orang baru? peringatan itu bener lho, termasuk kalo ada orang baru yang dibawa bos ke tempat kerja kita, apalagi yang proses rekrutmennya nggak jelas. jangan2 dia bukan sekedar pegawai tapi juga mata2 bos. sebaik apapun kelihatannya, belum tentu lho dia tidak menyimpan niat untuk menerkam dari belakang...

-----------

batuk dan flu? ngga perlu repot2 beli obat bebas di warung, sayangilah hati dan ginjal anda. lebih baik istirahat dan konsumsi air putih hangat yang banyak. dijamin lendir yang kental gampang mencair dan anda bisa bernapas lega kembali paling lambat dalam satu minggu. proven on me! (thanks to milis sehat)

-----------

your deed is my reflection.
kalo kamu sedih, itu karena aku nggak bisa memancing senyummu. kalau kamu marah, itu karena aku nggak bisa menghilangkan gusarmu. kalo kamu kehilangan gairah, itu karena aku nggak cukup menarik buatmu. kalo kamu pergi, itu karena aku nggak bisa mengikat hatimu. kalo kamu selingkuh, itu karena aku nggak bisa memelihara cintamu.
sikapmu adalah cermin diriku, begitu juga sikapku adalah cermin dirimu. karena itu bercermin bisa membuat kita lebih baik.

------------

jangan pernah lupakan sarapan sebelum beraktivitas. karena dengan sarapan lebih dulu, anda tidak perlu terganggu oleh perut yang lapar dan daya konsentrasi akan lebih tinggi, dijamin! weleh, iki pengalaman gara2 hari ini aku tidak sarapan abisnya berangkat pagi. duh, laperrr!

------------

hubungan dengan pasangan sedang tidak enak? menulislah. bisa email, sms atau surat pos. ungkapkan perasaan dan keinginan anda untuk membicarakan hal ini dengan pasangan. melalui tulisan anda bisa mempertimbangkan kata-kata yang pas sehingga tidak membuatnya tersinggung.



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed