karena due date makin deket, aku mulai survei kecil-kecilan. dapet info dua rsb dari uni. yang pertama langsung aku coret dari daftar krn dokternya cowok semua, hehe... malessss. yang kedua, kata uni punya seorang dsog berpengalaman, dan salah satu dsog yang praktek disana (perempuan) juga kabarnya bagus. aku telponlah rsb itu, yang cuma berjarak 3 km dari rumah.
"mbak, mau tanya, kalau melahirkan disini, ibu dan bayi jadi satu kamar atau dipisah?" ini pertanyaan esensial pertama, krn aku mau early latch on dan asix.
"dipisah, bu."
"bisa minta digabung?"
"nggak bisa bu."
waks, ladhalah. ga bisa katanya! that's it, enough. jawaban atas pertanyaan pertama aja udah "salah," ngapain capek2 gw lanjut sama pertanyaan berikutnya.
jadi... yang uni bilang rsb itu bagus, diliat dari apanya ya...? karena baru dan (pastilah) gedungnya masih bagus? atau karena papan namanya gede dan terang-benderang? atau karena tidak rooming in itu tadi? lho?! bah, si uni dapat gosip darimana pula kalo itu rsb bagus. wong dia sendiri aja ga pernah ngelahirin disana.
yang jelas super duper aneh bagiku soal rsb itu, kok bisa-bisanya rsb ga sayang ibu dan anak. kalo itu rsu sih aku masih maklum, mungkin mereka menganggap penanganan pasien gawat darurat jauh lebih penting daripada penanganan persalinan. tapi ini kan rsb, ajaib kalau mereka nggak pernah dengar yang namanya asix. atau ga mau dengar? ada ga sih korelasi rooming in dengan early latch on dan asix? menurutku sih ada. lha kalo kamar ibu dan anak dipisah, gimana keduanya mau intensif bonding dan latihan latch on yang benar? ok, akhir kata rsb itu pun kucoret dari daftar.
suatu ketika pas arisan pkk (sst, kegiatan arisan pkk ini akan kuceritakan kapan-kapan, kalo ga kehilangan mood, hehe), ternyata salah satu pengurusnya adalah bidan yang katanya bersedia dipanggil untuk menolong persalinan. wow, interested dong aku. aku pikir ibuku adalah bidan terakhir yang semulia itu. sementara jaman sekarang, bidan desa aja (bukan bidan pedalaman) kadang (menurutku lho) terlalu jual mahal untuk dipanggil, dan lebih suka pasien yang kesakitanlah yang menyatroni mereka. wah, padahal ibuku dulu sangat bertanggung jawab atas pasien-pasiennya yang melahirkan. bukan cuma bersedia dipanggil, tapi selama pusar bayi belum copot, beliau akan nyambangi si bayi dua hari sekali tiap pagi dan sore untuk memandikan. ibu, u're the best!
makanya, aku amazed banget di tengah kehidupan perkotaan masih ada bu bidan yang bersedia dipanggil untuk menolong persalinan. kalau tidak ada komplikasi, bukankah home birth pilihan yang bijak? first, pasti lebih nyaman bersalin di kamar sendiri daripada di klinik atau rumah sakit. apalagi sudah pasti didampingi anggota keluarga yang fully supporting. second, medically ibu dan bayi ga perlu terpapar superbugs dari rumkit/klinik. third, kalopun bidannya ga fully supporting asi, kan dia bisa "dikeroyok" orang serumah untuk early latch on dan gak jualan sufor. fourth, udah pasti lebih iritlah bersalin di rumah. kan ga ada biaya sewa kamar. last but not least, ga perlu repot usung-usung koper ke klinik atau rumkit.
makanya, i'd love to have a home birth. maka aku tanya-tanyalah ke bidan itu. tentu saja rooming in dan early latch on sudah kucoret dari daftar pertanyaan.
"bu, bisa dipanggil ke rumah untuk menolong persalinan ya?"
"bisa," dengan catatan saat dia available, karena dia juga kerja di salah satu rumkit swasta.
"biasanya kontrol dimana?" bu bidan tanya.
"di klinik R..." aku menyebut klinik langganan deket rumah. meski sebenernya aku rada sebel sama dsog-dsog di klinik itu, tapi itu klinik yang paling terjangkau jarak sehingga ga nyapein aku yang mesti kontrol tanpa ditemenin. yang bikin sebel bukan karena dsog2nya kurang komunikatif, tapi karena mereka mulai prakteknya malem banget, jam 20.30 atau 21.00. makanya aku pilih kontrol sabtu aja. selain dokternya cewek, besoknya aku ga perlu bangun pagi-pagi karena libur.
"wah, saya senang nih kalau bisa melahirkan di rumah. ibu bisa sekalian sediakan vaksin hepatitis B gak bu?" aku melancarkan pertanyaan kedua. "kan IDAI menganjurkan imunisasi hep b dalam 12 jam."
"oh iya, itu memang sedang digembar-gemborkan," jawab bu bidan tersenyum. maksut lo? aku mulai males liat reaksinya. lha cara dia berkata-kata seolah-olah kita lagi membahas kasus seleb yang merusak rumah tangga orang gitu.
"kalau imunisasi di klinik saja lah, bagi-bagi," katanya. bagi-bagi apaan maksutnya?
"wah, nggak bisa sekalian ya, bu?" aku dah empet tapi mencoba sabar.
"ya... bisa," jawabnya, nggak mantap babar blas.
"trus, kalau imunisasi polio 0 juga bisa?"
"ya... bisa."
trus aku minta nomor hapenya. tapi terus terang mood-ku udah kabur melihat sepertinya dia sama sekali nggak komit sama imunisasi.
beberapa waktu kemudian, saat kontrol ke klinik R, barulah aku survei klinik itu. pertama sih nanya sama petugas pendaftarannya. katanya di sana memang rooming in, bisa early latch on, dan bisa memenuhi jadwal imunisasi IDAI. untuk memantapkan, aku tanya lagi ke bidan yang asistensi dsog. soal imd sih, jawabannya "tergantung kondisi ibu." hmm, mungkin mereka pikir ada ibu-ibu yang terlalu lelah setelah melahirkan dan mau langsung istirahat aja. ok deh, aku akan buktikan aku niat beneran imd. soal imunisasi hep b, dia bilang "memang sudah kita wajibkan." moga-moga aja she didn't miss the main point, that i want it in 12 hours after birth. polio 0 sebelum pulang mereka juga oke. sayangnya untuk bcg belum bisa memastikan, karena katanya vaksin sedang langka dan nggak tahan lama setelah dibuka. minimal harus ada 3 bayi yang imunisasi bareng.
ok, aku rasa aku pilih klinik R aja. deket, dan insyaallah memenuhi persyaratanku. agak takut sebenernya, kalau pas waktunya klinik itu malah penuh. lha siapa tahu ibu hamil langganan klinik itu semuanya berdoa lahiran tanggal 8 agustus dan semuanya dikabulkan, hehe... terus terang aku dah males nih survei lagi, males menerima kenyataan bahwa ga semua rumkit bahkan rsb sayang ibu dan anak. moga-moga aja lancar dan nggak mengecewakan deh. tinggal satu yang ngganjel, caca ini cowok apa cewek sih? bunda mo belanja bajumu bingung nihhhh... :(