 |
|
Jul 28, 2008
Mata Air 77: kayak es teler aja... (judul ga ada hubungan sama isi :D)
karena due date makin deket, aku mulai survei kecil-kecilan. dapet info dua rsb dari uni. yang pertama langsung aku coret dari daftar krn dokternya cowok semua, hehe... malessss. yang kedua, kata uni punya seorang dsog berpengalaman, dan salah satu dsog yang praktek disana (perempuan) juga kabarnya bagus. aku telponlah rsb itu, yang cuma berjarak 3 km dari rumah.
"mbak, mau tanya, kalau melahirkan disini, ibu dan bayi jadi satu kamar atau dipisah?" ini pertanyaan esensial pertama, krn aku mau early latch on dan asix. "dipisah, bu." "bisa minta digabung?" "nggak bisa bu."
waks, ladhalah. ga bisa katanya! that's it, enough. jawaban atas pertanyaan pertama aja udah "salah," ngapain capek2 gw lanjut sama pertanyaan berikutnya. jadi... yang uni bilang rsb itu bagus, diliat dari apanya ya...? karena baru dan (pastilah) gedungnya masih bagus? atau karena papan namanya gede dan terang-benderang? atau karena tidak rooming in itu tadi? lho?! bah, si uni dapat gosip darimana pula kalo itu rsb bagus. wong dia sendiri aja ga pernah ngelahirin disana. yang jelas super duper aneh bagiku soal rsb itu, kok bisa-bisanya rsb ga sayang ibu dan anak. kalo itu rsu sih aku masih maklum, mungkin mereka menganggap penanganan pasien gawat darurat jauh lebih penting daripada penanganan persalinan. tapi ini kan rsb, ajaib kalau mereka nggak pernah dengar yang namanya asix. atau ga mau dengar? ada ga sih korelasi rooming in dengan early latch on dan asix? menurutku sih ada. lha kalo kamar ibu dan anak dipisah, gimana keduanya mau intensif bonding dan latihan latch on yang benar? ok, akhir kata rsb itu pun kucoret dari daftar.
suatu ketika pas arisan pkk (sst, kegiatan arisan pkk ini akan kuceritakan kapan-kapan, kalo ga kehilangan mood, hehe), ternyata salah satu pengurusnya adalah bidan yang katanya bersedia dipanggil untuk menolong persalinan. wow, interested dong aku. aku pikir ibuku adalah bidan terakhir yang semulia itu. sementara jaman sekarang, bidan desa aja (bukan bidan pedalaman) kadang (menurutku lho) terlalu jual mahal untuk dipanggil, dan lebih suka pasien yang kesakitanlah yang menyatroni mereka. wah, padahal ibuku dulu sangat bertanggung jawab atas pasien-pasiennya yang melahirkan. bukan cuma bersedia dipanggil, tapi selama pusar bayi belum copot, beliau akan nyambangi si bayi dua hari sekali tiap pagi dan sore untuk memandikan. ibu, u're the best!
makanya, aku amazed banget di tengah kehidupan perkotaan masih ada bu bidan yang bersedia dipanggil untuk menolong persalinan. kalau tidak ada komplikasi, bukankah home birth pilihan yang bijak? first, pasti lebih nyaman bersalin di kamar sendiri daripada di klinik atau rumah sakit. apalagi sudah pasti didampingi anggota keluarga yang fully supporting. second, medically ibu dan bayi ga perlu terpapar superbugs dari rumkit/klinik. third, kalopun bidannya ga fully supporting asi, kan dia bisa "dikeroyok" orang serumah untuk early latch on dan gak jualan sufor. fourth, udah pasti lebih iritlah bersalin di rumah. kan ga ada biaya sewa kamar. last but not least, ga perlu repot usung-usung koper ke klinik atau rumkit.
makanya, i'd love to have a home birth. maka aku tanya-tanyalah ke bidan itu. tentu saja rooming in dan early latch on sudah kucoret dari daftar pertanyaan. "bu, bisa dipanggil ke rumah untuk menolong persalinan ya?" "bisa," dengan catatan saat dia available, karena dia juga kerja di salah satu rumkit swasta. "biasanya kontrol dimana?" bu bidan tanya. "di klinik R..." aku menyebut klinik langganan deket rumah. meski sebenernya aku rada sebel sama dsog-dsog di klinik itu, tapi itu klinik yang paling terjangkau jarak sehingga ga nyapein aku yang mesti kontrol tanpa ditemenin. yang bikin sebel bukan karena dsog2nya kurang komunikatif, tapi karena mereka mulai prakteknya malem banget, jam 20.30 atau 21.00. makanya aku pilih kontrol sabtu aja. selain dokternya cewek, besoknya aku ga perlu bangun pagi-pagi karena libur. "wah, saya senang nih kalau bisa melahirkan di rumah. ibu bisa sekalian sediakan vaksin hepatitis B gak bu?" aku melancarkan pertanyaan kedua. "kan IDAI menganjurkan imunisasi hep b dalam 12 jam." "oh iya, itu memang sedang digembar-gemborkan," jawab bu bidan tersenyum. maksut lo? aku mulai males liat reaksinya. lha cara dia berkata-kata seolah-olah kita lagi membahas kasus seleb yang merusak rumah tangga orang gitu. "kalau imunisasi di klinik saja lah, bagi-bagi," katanya. bagi-bagi apaan maksutnya? "wah, nggak bisa sekalian ya, bu?" aku dah empet tapi mencoba sabar. "ya... bisa," jawabnya, nggak mantap babar blas. "trus, kalau imunisasi polio 0 juga bisa?" "ya... bisa." trus aku minta nomor hapenya. tapi terus terang mood-ku udah kabur melihat sepertinya dia sama sekali nggak komit sama imunisasi.
beberapa waktu kemudian, saat kontrol ke klinik R, barulah aku survei klinik itu. pertama sih nanya sama petugas pendaftarannya. katanya di sana memang rooming in, bisa early latch on, dan bisa memenuhi jadwal imunisasi IDAI. untuk memantapkan, aku tanya lagi ke bidan yang asistensi dsog. soal imd sih, jawabannya "tergantung kondisi ibu." hmm, mungkin mereka pikir ada ibu-ibu yang terlalu lelah setelah melahirkan dan mau langsung istirahat aja. ok deh, aku akan buktikan aku niat beneran imd. soal imunisasi hep b, dia bilang "memang sudah kita wajibkan." moga-moga aja she didn't miss the main point, that i want it in 12 hours after birth. polio 0 sebelum pulang mereka juga oke. sayangnya untuk bcg belum bisa memastikan, karena katanya vaksin sedang langka dan nggak tahan lama setelah dibuka. minimal harus ada 3 bayi yang imunisasi bareng.
ok, aku rasa aku pilih klinik R aja. deket, dan insyaallah memenuhi persyaratanku. agak takut sebenernya, kalau pas waktunya klinik itu malah penuh. lha siapa tahu ibu hamil langganan klinik itu semuanya berdoa lahiran tanggal 8 agustus dan semuanya dikabulkan, hehe... terus terang aku dah males nih survei lagi, males menerima kenyataan bahwa ga semua rumkit bahkan rsb sayang ibu dan anak. moga-moga aja lancar dan nggak mengecewakan deh. tinggal satu yang ngganjel, caca ini cowok apa cewek sih? bunda mo belanja bajumu bingung nihhhh... :(
Posted at 05:28 pm by aie
Permalink
Jul 23, 2008
kapan ya terakhir kali aku nyetir di a yani dengan kecepatan 60 km/jam? mungkin 5 taun lalu, saat jam kerjaku masih jam 4 sore sampe tengah malem hihi... seneng aku, karena hari ini pilgub, a yani yang biasanya sumber macet mulai dari bunderan waru sampe polda, jam 9 tadi sepiiiiiiiiii... well, dengan sangat menyesal aku terpaksa golput. lha mau nyoblos ga difasilitasi akses. masa musti pulkam sejauh itu, dengan keadaanku yang seperti ini. plis deh... yang jelas di kantor sepi hari ini. orang2 yang masuk sabtu hari ini off. kampus juga sama sepinya. tuh di luar malah banyak anak2 yang maen sepeda. aduh, jadi pengen belanja, hehe... tapi kayaknya mall2 baru buka siang nanti. ah, ga deh, mending ntar pulang bobok siang aja... baca milis jadi inget simbak di rumah. udah berapa kali dia minta menu melulu, alias minta aku nentuin hari ini belanja apa. waduh... males banget mikirnya. wong di lemari dah banyak resep dari tabloid/majalah, kok masih tanya gw juga sihhh? daripada disuruh mikir menu belanja dapur, mending aku mikirin gimana caranya dapet duit belanja dah. baca milis lagi, inget juga ama temen kantor yang doyan banget ngeklaim askes. bolak-balik ke dokter nebus obat ratusan ribu karena anaknya batuk pilek. yah, duitnya sih diganti, balik utuh lagi. tapi efek obat ke anaknya? puyer, ab... aku mo ngomong susah banget ketemu ama tuh orang. *do something do something do something, aie...
Posted at 11:12 am by aie
Permalink
Jun 9, 2008
the biggest fear... the scariest thing... is coming in two months... what am i supposed to do? no way out... no choice but to face it, and i don't know how i can overcome this feeling. now i shed tears... all over again.
-----------------------------------------
"Yangti, kenapa ya yangti sama yangkung kok lain sama bapak dan ibu lainnya? Kalo orang lain itu, pak Agus dan bu Agus, pak Bambang dan bu Bambang, pak Cecep dan bu Cecep. Lha yangti kok bu Diah dan pak Dani?"
"Eh, bu Farid, apa kabar?" *tersipu "ssst, sekarang bukan bu Farid lagi, bu. Saya sudah cerai dengan pak Farid, sekarang saya jadi bu Handi."
"nama suaminya siapa bu?" *dalam sebuah arisan dasawisma saat ada anggota baru.
gregetan aku kalo ada kasus2 kayak gitu. kenapa sih musti mengubah nama dan ndompleng nama suami? to the point aja ya, patriarki banget! memangnya kenapa kalo tetep pake nama ani, bella, cita, whateverlah, biarpun udah nikah ama joko kek, gugun kek, siapa kek. kalo urusan sama bank aku juga sebel disuruh ngisi "nama gadis ibu kandung." heh, ibu gw sebelum atau sesudah nikah namanya ga berubah tau, tetep farida! dan aku bersyukur banget sampe akhir hayatnya dia tetap dikenal sebagai bu farida, bukan bu suyitno. my mom has always been my inspiration; her independence, her strength, her struggle... i'm so proud of her.
lagi kesel hari ini, lagi stres, jadi pengen marah2 sama dunia!
Posted at 02:31 pm by aie
Permalink
Jan 25, 2008
Mata Air 74: When I Lost Something...
ketika aku kehilangan (kejambretan, tepatnya) tasku beberapa waktu lalu, apa yang paling aku tangisi?
bukan duit di dompet yang "cuma" 50ribu, atau hp yang baru dipake 2 hari, melainkan kartu2 identitas (SIM, KTP, atm, STNK, kartu asuransi) dan buku notesku! ada flash disk juga sih, tapi datanya sudah ku back up, jadi ga begitu ngaruh. beberapa kartu identitas memang akhirnya balik (atm jelas nggak, tp yang penting dah diblokir dan ga ada duit yang ilang dari rekeningku), plus tas dan dompet make up beserta isinya yang dibuang para penjambret dan ditemukan seorang staf rsal (aduh... aku lupa terus mo kirim kue, hiks). tapi ktpku ama ktp misoa ga balik, moga2 aja ga disalahgunakan. beberapa tahun lalu, waktu aku kehilangan dompet di pasar lempuyangan, yang aku tangisi juga kartu2 identitas yang ikut raib, plus foto almarhum bapak dan ibu di dompetku. padahal itu foto terakhir mereka yang ada di tanganku... aku benci banget kalo inget itu, sungguh tak termaafkan mereka yang semena2 merenggut salah satu hartaku yang paling berharga.
seperti notes yang aku tangisi sekarang. apa sih artinya buat orang lain? kenapa ga dibuang sekalian sama tasku? di situ ada cerpen yang kurang sediki...t lagi selesai dan calon postingan blog yang tinggal diketik doang. buat nulis itu ga gampang, sangat-sangat bergantung sama mood. sekarang kalau aku harus nulis lagi dua catatan itu, mana bisa aku buat dengan kualitas yang sama. makanya aku sedih banget. apalagi cerpen itu... yang aku tulis setelah berhari2 aku menghayalkannya sebelum tidur. dan sekarang aku dah ga bisa menulis hal yang sama lagi, karena mood-nya udah lenyap! jambret sialan!!!!!!
aku jadi ga ikhlas ya kehilangan? biar deh, aku ga bisa membohongi perasaan. aku paling sewot kalau ada yang merampas tulisanku. unforgiven!!!!!!!!!
Posted at 11:14 am by aie
Permalink
Jan 9, 2008
Mata Air 73: it hurt me, and still does...
perhaps, because i miss him, i read his blog all over again. then i found that story, which suddenly brought me back to some months ago, when i was so damn angry to that woman, that bitchy thing (oh, how i love swearing at her!!!). no matter what, the stories in his blog still couldn't make me forgive her (and it took me months to forgive him!). i still remember the hurt i felt, when he left soon after i entered the room. for god sake, i stayed up that late because i thought it would be the best time to spend with him before i left the following day. but then he left me to join that woman, it was more than just hurting... he tore up my heart, into very small pieces that i'm still mending till now. how could he do that, after all the sacrifice i made, right when i was down to the most hurting pain? i know he cared about her, and he can't deny that he still does. perhaps she deserved his attention, noting how close they had been all those years. i never meant to break their friendship anyway. but if he thinks that justifies his deed, well... he knows i'm too selfish to share.
Posted at 03:40 pm by aie
Permalink
Mata Air 72: is there anything missing...?
god... god... god... what my sister said yesterday makes me keep wondering if i'd stolen something from my son's life. her friend asked, "is this the life style of every modern family?" well, for me, it has nothing to do with modernism at all. with this hectic schedule, the nausea and other things that keep me laying down at home, i know there are a lot of things my son missed. sometimes i can't help crying when i see him asleep; i just feel so guilty. he needs more than i can give, but what can i do? i've been very weak for the last few weeks. i can't even stand up for more than 3 minutes. last night was one of the worst. we both went to bed without brushing our teeth (jorok pollll). he had dinner with the carpenter as if i couldn't afford to buy him one (sorry dear, i thought u ate twice at school). god, this is terrible. please help me... find me an assistant to take care of the house and my son. has every good servant been taken that none is left for me...?
Posted at 10:10 am by aie
Permalink
Sep 24, 2007
When was the last time i had my tarawih in the mosque? 6 years ago! yup, waktu aku masih kerja di perush tekstil di jakarta. biar sholatnya 23 rakaat, tapi karena ada temennya jadi rajin juga ke masjid. abis itu, tahun 2002-2003 aku puasaan pas kerja di jp, jam tarawih adalah jam2 berebutan berita. abis itu, puasaan pas hamil. bawaannya malesss... mulu. abis itu, 3 taun puasaan di negeri nun jauh disana... padahal musola di depan rumah tp juga ga pernah dimasuki. ampyunnnn...
nah... baru td mlm aku tergerak utk melangkah ke masjid lagi buat tarawih. bukan apa2 sih. meski masjid cuman beberapa meter dari rumah, aku selalu ragu ngajak dika kesana, takut gangguin orang sholat. ya kalo yang diganggu cuman emaknya, lha kalo orang lain juga digangguin piye? tapi tadi malem jadi malu juga setelah yayangku cerita mo tarawih bareng temen2nya (di tengah lingkungan yang sama sekali ga ada masjidnya gitu lho...). ya udah, abis nelpon yayang langsung ngajak dika ke kamar mandi buat bersih2, trus aku pakein sarung. hihi... lucu banget tuh anak kalo sarungan.
pertama masuk masjid, langsung aku pilih tempat di teras samping, akses yang gampang buat keluar (takut dika rewel). jadi keinget waktu masih kecil dulu. aku ama pety pasti cari tempat di belakang. sering ikut salamnya doang kalo pas ibu ada di barisan depan, hehe... kadang suka minggat duluan sebelum witir, soale mo nonton jack scalia :D
eniwei, si dika sempet juga ikut rame2 sholat isya, ikut2an imam baca al fatihah pelan2 (wah, sebelah bisa ngakak semua kl dia bacanya keras2). aku cuman bisa membatin, moga2 anakku cukup sabar ga sujud duluan. ga berhasil, dia ga sabar sampe imam selesai baca surat, trus sujud duluan dan nyelesain solatnya duluan (ya ga baca apa2 sih, cuman sujud berdiri lagi sujud lagi trus ngacir, huaaaa). meskipun akhirnya dia malah maen ayunan (lha wong di sebelah masjid ada tk), at least dia ga gangguin orang lah.
aduh, ternyata jamaahan di masjid tuh rasanya damaiii banget ya... aduh, aku pengen... ntar malem balik lagi. bisa ga ya...?
Posted at 05:34 pm by aie
Permalink
Aug 1, 2007
Mata Air 70: half... half...help!
pancene aku iki nggilani kok. badan dan otak kayak tinggal separo. nggak bisa mikir. ngisin2i, abis wanti2 ke orang lain, jangan ganggu dulu deh yayangku, lagi repot dia sama studinya, lha kok aku ngimel njaluk tulung dibantu ngambil keputusan. dasar!
ternyata manusia memang ga bisa sepenuhnya independen ya. ngurus rumah dan anak sendirian aja kadang2 rasanya capek banget. not physically, but mentally. si dika kalo dibangunin pagi2, aduh, kadang bikin gregetan. I'm trying to be as patient as possible but sometimes i just can't help it! lha dia sarapan dengan santainya padahal emaknya keburu2 mo kerja. emang ga gampang ngasih dia pengertian. kalo dibilangin, "dika, kl bunda datengnya telat, trus dipecat, ntar dika ga bisa sekolah lho (padahal nggaklah kl gw sampe dipecat gara2 dateng telat)," malah njawab, "biarin aja ga usah sekolah." maksutnya???
aduh duh... belum lagi mikirin double jobs yang bikin telerrr ini. mau dilepas satu kok sayang, ga dilepas kok keteteran. am i too idealistic by asking for a job that requires skills as much as producing a lot of money? pusing... pusing...
Posted at 04:38 pm by aie
Permalink
Jul 24, 2007
Do they really have to tell me over and over again that life is always about choices? I hate it when they say, "You can't have them all. You have to choose!" I know I know I know!! I know that every second in our lives we have to make choices. Even by not deciding what to choose yet, I've already made a choice, right?
Bukan maksud hati mo ambil semuanya, grab anything i can, justify all the way, u name it lah. Tapi aku tuh masih bingung mana yang harus diambil. Belajar dari pengalaman sih, harusnya aku ga salah langkah lagi. Ada kesempatan di depan mata untuk memperbaiki diri. But it's just not that easy to decide. Aku pengen... ahhh, kenapa kesannya jadi kemaruk ya?
Oh God, aku sampe malu rasanya mo minta terus sama Tuhan. Kok selalu isinya permintaan. Ada sih terima kasih, ya jelaslah, aku berterima kasih atas apapun yang Dia beri. Apapun yang aku dapat kan berkat Dia juga. Tapi kalo harus minta lagi... rasanya emang I sound too "kemaruk" already. Minta ini, minta itu... panjang betul daftar permintaannya. Malu... malu... mau... hehe...
Au' ah, gelapppp!
Posted at 11:15 am by aie
Permalink
Jun 12, 2007
"I'm a nightmare for everyone!!" Huahahahahahahaha!!
Posted at 09:22 am by aie
Permalink
|
|
 |

|
|
 |